Pada dasarnya negara Indonesia memiliki kultur sejarah yang sangat panjang mengenai sabung ayam dan juga beberapa mitologi yang menjadi mitos sendiri.

Mengenai Sejarah, Mitos dan Makna Sabung Ayam di Indonesia

Posted on

Mengenai Sejarah, Mitos dan Makna Sabung Ayam di Indonesia – Pada dasarnya negara Indonesia memiliki kultur sejarah yang sangat panjang mengenai sabung ayam dan juga beberapa mitologi yang menjadi mitos sendiri. Jika selama ini Sungai Kuning di China serta Lembah Indus di India yang di anggap sebagai pusat sejarah mengenai Ayam di dunia, nyata nya Indonesia juga memiliki kisah sejarah tentang sabung ayam. Panjangnya sejarah mengenai interaksi manusia dan ayam di bumi barangkali menjadi kunci jawaban mengapa mitos ayam jantan begitu kental dalam kebudayaan.

Pada dasarnya negara Indonesia memiliki kultur sejarah yang sangat panjang mengenai sabung ayam dan juga beberapa mitologi yang menjadi mitos sendiri

Sejarah Terbaik Mengenai Sabung Ayam di Indonesia

Clifford Geertz merupakan seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat. Beliau dikenal karena penelitian nya mengenai Indonesia dan Maroko dalam bidang seperti agama, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional serta kehidupan di beberapa daerah terpencil. Geertz menemukan makna penting tentang Sabung Ayam jago di dalam masyarakat Bali.

Dalam Sabung Ayam, terdapat suatu bangunan kultur yang besar, tentang status, tentang kepahlawanan, tentang kejantanan serta etika sosial dan budaya yang menjadi dasar pembentukan masyarakat Bali, tutur Geertz Sabung Ayam menurut nya adalah lebih dari sekedar permainan judi saja tapi juga merupakan simbol ekspresi dari status, otoritas dan lain sebagai nya.

Dalam KBBI, kata “Jago” secara leksikon berarti “Ayam Jantan”. Namun istilah ini bisa di artikan sebagai “Calon Utama Dalam Sebuah Pemulihan”, atau “Juara” atau “Kampun”. Dalam masyarakat Jawa sendiri “Jago” berarti Ayam, namun kata ini juga bisa bermakna konotatif dalam kamus bahasa Indonesia.

Masyarakat Jawa mengenal yang namanya Folklore Cindelaras yang nama tersebut di ambil dari latar belakang sejarah di zaman Kerajaan Jenggala abad ke -11, narasi ini bercerita mengenai sabung ayam dan relasi simbol nya yang mengarah ke kekuasaan. Pada beberapa Epik La Galigo di suku Bugis, tokoh utama Epik yaitu Sawerigading.

Sawerigading sendiri memiliki hobi bermain sabung ayam, bahkan orang bugis dulu nya belum bisa di sebut pemberani karena belum memiliki kebiasaan dalam menyabung ayam (massaung manu). Barangkali bukan hanya masyarakat Bugis, tetapi juga masyarakat bersuku Jawa, Bali, Sunda dan lain nya karena pada jaman dulu Ayam Jantan memiliki citra asosiasi untuk melukiskan tentang keberanian dan kejantanan.

Mengenai lokalitas di Bali, Geertz mengungkapkan bahwa dia tidak memaparkan sejauh mana terdapt perbedaan makna antara sabung ayam dalam bentuk “Tetajen” dan “Tabuh Rah”. Jelas dalam hal ini sabung ayam memilki konteks dan makna yang berbeda. Dalam satu sisi tetajen merupakan ritual sosial yang bersifat profan berupa perjudian, sedangkan Tabuh Rah ialah ritual yang bersifat sakrat dan keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *